Kebun Bunga

menyediakan bunga, pohon, dan bibit tanaman buah

Senin, 29 Oktober 2012

Mekanisme “cara/metode/teknik” meningkatkan kestabilan agroekosistem dari berbagai aspek

Nama   : ulil abror putra yudha
NIM    :101510501143
MK      : PSPB
Kelas   : D

Mekanisme “cara/metode/teknik” meningkatkan kestabilan agroekosistem dari berbagai aspek

          Agroekosistem merupakan suatu modifikasi lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan kembali kenekaragaman hayati meskipun dalam lingkup yang tidak terlalu luas. Pada agroekosistem manusia menjadi faktor penentu keberhasilan serta penataan konsep ekosistem yang baik serta menguntungkan bagi semua makhluk hidup utamanya manusia. Namun agroekosistem ini lebih cenderung pada penataan lahan-lahan pertanian dan beberapa varietas tanaman saja sehingga lingkup keanekaragaman hayatinya tidak terlalu luas.
            Agroekosistem sendiri terbentuk berdasarkan dua faktor utama yakni sistem alam dan sistem lingkungan. Sistem alam berkaitan dengan keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem sedangkan sistem sosial berkaitan dengan peranan manusia dan manfaatnya bagi mereka. Beberapa komponen natural dalam agroekosistem antara lain meliputi faktor-faktor biofisik seperti tanah, air, iklim, tumbuhan, hewan dan lainnya yang saling berinteraksi dalam suatu mekanisme tertentu sehingga akan saling mempengaruhi. Misal, adanya perubahan kondisi tanah akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan lainnya.
system sosial terdiri dari beberapa aspek  yakni organisasi sosial, ekonomi, institusi politik dan system kepercayaan merupakan hal-hal yang saling memberikan pengaruh pada terbentuknya karakter tertentu, daya tahan, stabilitas dan tingkat kemajuan (Rambo, 1983). Selain  itu, interaksi antara system sosial dan system natural  dalam sebuah agroekosistem juga saling memberikan pengaruh. Perubahan pada system natural akan berpengaruh pada system sosial, dan sebaliknya perubahan dalam system sosial juga akan memberikan pengaruh pada system natural. Namun yang menjadi aspek penentu keseimbangan agroekosistem adalah manusia yang dapat mengarahkan pola dan metode pembentukannya.
Mekanisme dan Aspek Kestabilan Agroekosistem
Manusia         : manusia merupakan asapek terpenting dalam peningkatan kestabilan agroekosistem. Hal ini,karena pengaturan sistem yang diterapkan tergantung pada timbal bail yang dapat diperoleh oleh manusia itu sendiri. Cara yang umum dilakukan yakni melakukan pertanian multi kultur dan pengendalian yang arif sehingga ekosostem tetap terjaga.
Biofisik           : merupakan faktor alam yang meliputi berbagai aspek lingkungan seperti tanah, air, tumbuhan dll. Kenekaragaman biofisik yang ada akan menentukan seberapa besar kestabilan ekologi di daerah tersebut. Cara yang dapat diterapkan yakni dengan melakukan pengendalian yang arif serta pengolahan tanah dan tumbuhan yang baik sehingga rantai makanan didalamnya tetap terjaga.
Sosial              : meliputi interaksi manusia dengan ligkungan. Pada umumnya kestabilan akan terjadi jika ada timbal balik yang menguntungkan antara keduanya. Dalam hal ini yang dapat dilakukan yakni pelestarian dan memuliyaan lingkungan.
Ekonomi         : jika agroekosistem ini memberikan dampak ekonomi yang positif maka secara otomatis manusia akan mempertahankan kondisi agroekosistem tersebut. Namun jika ada kesenjangan ekonomi, hal yang dilakukan yakni mengatur ulang metode dan teknik pembentukan agroekosistem agar lebih ekonomis.
Politik/pemerintah     : peranan pemerintah menjadi faktor pendukung keseimbangan agroekosistem, pemerintah menjadi kontrol dan pengawas kegiatan pertanian yang mengarah pada keseimbangan agroekosistem sehingga perlu adanya kebijakan yang mengaturnya.
Budaya/kepercayaan : pada umumnya manusia menerapkan konsep agroekosistem berdasarkan adat dan budaya yang berlaku dimasyarakat. Cara ini cukup baik karena umumnya masyarakat akan cenderung mempertahankan kondisi alam sekitarnya sehingga hanya perlu sedikit sosialisasi untuk kemajuan teknologi didalamnya.
Budidaya/input : berupa pemupukan, pengendalian dan lainnya. Konsep iniharus sangat diperhatikan karena adanya dosis, rentan waktu dan cara pemberian input yang tidak arif akam merusak kestabilan agroekosistem. Seperti tejadinya peledakan hama, residu tanah yang tinggi, keracunan pada tanaman maupun hewan dan lain sebagainya (hilmanto, 2009). dalam Praktek Local Ecological Knowledge dalam teknik pemupukan masyarakatDusun Lubuk Baka berdasarkan perbedaan etnis
            Selain itu, hal yang harus diperhatikan yakni cara, waktu, dosis, serta rentan waktu pengendalian OPT yang dilakukan. Hal ini, karena sebagian besar penyebab kesenjangan agroekosistem adalah pengendalian yang tidak tepat dan tidak arif sehingga keanekaragaman hayati berkurang. Untuk itu perlu dilakukan pengendalian secara Agroecosystem management for Pest Control (Nurindah, 2006).
Sumber:
Hilmanto, Rudi. 2009. (Local Ecological Knowledge In The Technique Of Fertilizer Application In Agroforestry System). Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat, Unila, 2009
Nurindah. 2006. Pengelolaan Agroekosistem dalam Pengendalian Hama. Indonesian Tobacco and Fibre Crops Research Institute Volume 5 Nomor 2, Desember 2006 : 78 – 85

Tidak ada komentar:

Posting Komentar